Orang yang tidak cukup berani mengambil resiko, tidak akan meraih apapun di dalam hidup ini (Muhammad Ali) Perlu seumur hidup untuk menunggu orang lain mempercayai anda, lebih baik mulailah dengan mempercayai diri sendiri lebih dahulu (Chef) Perubahan adalah sesuatu yang wajar tidak tersanjung bila sukses, dan tidak patah semangat bila gagal (Dirk Mathisan) Berikanlah sebanyak mungkin waktu untuk memperbaiki diri sehingga anda tidak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain (Thomas Jefferson) Melakukan hal biasa dengan cara luar biasa akan membawa anda ke masa depan yang luar biasa
Tulis buku tamu
Home > Berita
Kamis 6 Februari 2014, 13:54 WIB
KEWASPADAAN UMUM BAGI PETUGAS KESEHATAN AGAR TERHINDAR DARI PENULARAN HIV AIDS

 

Berita-berita tentang AIDS selalu menarik perhatian masyarakat luas. Paling sedikit ada dua alasan yang membuat AIDS menjadi perhatian. Saat ini AIDS telah menjadi masalah kesehatan yang sifatnya pandemik dan menjadi masalah global. Jumlah penderita HIV positif meningkat tajam sekali. Sejak laporan pertama, terus ditemukan infeksi HIV di berbagai provinsi di negara kita Indonesia saat ini. Indonesia saat ini telah memasuki epidemi HIV/AIDS gelombang kelima, ditandai dengan munculnya kasus HIV/AIDS para ibu rumah tangga atau para istri bahkan janin yang sedang dikandung seorang ibu dengan HIV positif atau AIDS.

Dengan semakin besarnya penderita HIV/AIDS tersebut, maka pada masa yang akan datang banyak masyarakat Indonesia yang menderita HIV/AIDS yang memerlukan pelayanan perawatan. Untuk itu sudah saatnya petugas-petugas kesehatan harus memegang prinsip pencegahan infeksi terhadap HIV/AIDS dengan prinsip kewaspadaan umum (universal precaution). Kewaspadaan umum ini perlu ditegakkan mengingat HIV mudah ditularkan karena adanya kontak cairan tubuh pasien yang terinfeksi (darah, sperma, sekret vagina, cairan dari luka, dll). Dengan kewaspadaan universal ini diperoleh keuntungan yaitu kita dapat mencegahan pemaparan infeksi oleh mikroorganisme terutama virus HIV/AIDS melalui darah atau cairan tubuh penderita.

Penelitian sampai sekarang masih menunjukan bahwa angka resiko tertular HIV/AIDS pada petugas kesehatan masih kecil. Meskipun demikian hasil penelitian juga menunjukan bahwa persentase resiko tertular pada petugas kesehatan paling tinggi terjadi pada perawat. Penelitian McCray, “The Cooperative Needlesticck Surveylance Grup” dikemukakan dari 938 orang petugas kesehatan yang terpapar oleh penderita AIDS baik secara parenteral atau paparan pada selaput lendir di dapati 2 orang petugas kesehatan seropositif terhadap HIV (Saifudin, 2000).

Universal precaution atau kewaspadaan umum adalah pedoman yang ditetapkan pertama kali oleh Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat, bertujuan untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya di lingkungan rumah sakit.

Penerapan kewaspadaan umum ini harus dianut suatu asumsi bahwa semua prosedur dan atau semua pasien berpotensi untuk menularkan suatu penyakit. CDC menyatakan bahwa jika riwayat midis dan pemeriksaan tidak dapat mengidentifikasi semua pasien yang berpotensi menularkan suatu penyakit infeksi, kewaspadaan khusus harus diberkalukan kepada semua pasien. Adapun prinsip  yang perlu diperhatikan tentang kewaspadaan umum di ruang perawatan yang lebih operasional adalah sebagai berikut :

  1. Semua petugas kesehatan harus secara rutin menggunakan alat pelindung yang benar untuk mencegah paparan terhadap kulit dan membran mukosa jika kontak dengan darah atau cairan tubuh pasien lainnya sebagai langkah antisipasi. Sarung tangan, masker, dan pelindung mata atau lapisan pelindung wajah harus selalu dikenakan selama melakukan semua prosedur invansif atau perawatan yang hubungannya dengan darah dan cairan tubuh yang lainnya dan saat menangani linen, bahan buangan (sampah medis) atau instrumen yang telah dipakai untuk mencagah terpaparnya kulit dan membran mukosa.
  2. Tangan dan permukaan kulit lainnya harus segera dicuci apabila terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh pasien lainnya. Dicuci menggunakan menggunakan sabun dan air mengalir. Walaupun sarung tangan tetap dikenakan selama melakukan prosedur, cuci tangan setelah sarung tangan dilepas harus menjadi kegiatan rutin.
  3. Pakaian pelindung dan atau scort (plastik apron) harus dipakai selama prosedur invansif untuk melindungi dari semburan darah atau cairan tubuh pasien. Gunakan sepatu pelindung (tertutup) untuk melindungi terpaparnya kaki dari darah atau cairan tubuh klien.
  4. Para petugas kesehatan harus melakukan kewaspadaan terutama untuk melindungi diri dari cidera yang diakibatkan oleh jarum suntik atau instrumen atau alat tajam lainnya selama tindakan prosedur, ketika membersihkan dan membereskan instrumen yang telah digunakan.
  5. Untuk meminimalkan peningkatan kebutuhan emergensi dengan pernapasan dari mulut ke mulut, mouth piece, balon resusitasi dan alat ventilator lainnya harus tersedia di tempat yang diperkirakan membutuhkan tindakan emergensi tersebut.
  6. Semua spesimen darah, cairan tubuh atau jaringan harus ditempatkan pada tempat yang aman supaya tidak terkontaminasi dengan benda lain.
  7. Petugas kesehatan yang sedang menderita sakit menular (yang disebabkan oleh bakteri atau virus), mengalami luka bereksudat atau mengalami dermatitis jangan melakukan perawatan langsung atau memegang peralatan yang akan atau sedang digunkan oleh klien sampai kondisinya pulih.
  8. Semua linen yang basah harus ditempatkan dan dikirim dalam kantong yang tidak bocor.
  9. Sampah harus dibuang sesuai dengan jenis sampahnya.
  10. Makan dan minum hanya dilakukan ditempat yang telah ditentukan.
  11. Pencucian instrumen harus memperhatikan prinsip pembersihan alat-alat logam bekas pakai menurut JHIP-IEGO (2003) adalah :
  • Dekontaminasi dengan cara rendam dilarutan klorin (hypoklorin) 1 : 9 selama 10 menit
  • Bersihakan alat logam dari semua material asing seperti kotoran atau material organik dari pasien  dengan cara dicuci menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
  • Disinfeksi atau sterilisasi alat menggunakan autoclave selama 20-30 menit atau rebus sampai mendidih selama 20 menit.

Yang penting diperhatikan oleh petugas kesehatan adalah bahwa bekerja berdasarkan standar operasional prosedur yang baku, itu  akan mencegah terpapar dan terkontaminasinya petugas kesehatan dari virus HIV yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Disamping itu prosedur tetap yang sudah baku di Rumah Sakit tentang tindakan aseptik dan antiseptik serta tindakan sterilitas harus tetap dipertahankan dan dilaksanakan. Kepatuhan terhadap prosedur tetap yang telah ada dan standar prosedur di kamar operasi ini perlu ditekankan bagi semua petugas kesehatan yang kontak langsung dengan cairan tubuh pasien mulai dari dokter, perawat, petugas laboratorium bahkan petugas kebersihan. (Yunie Army)     

Berita Lainnya
Find us on :
AKADEMI KEPERAWATAN PANTI KOSALA SURAKARTA
Jalan Raya Solo – Baki Km. 4 Gedangan, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo,
Jawa Tengah, Indonesia
Telp. (0271) 621313 Faks. (0271) 621672
Email. akperpk@yahoo.com
LOGIN E-JURNAL DIKTI