Orang yang tidak cukup berani mengambil resiko, tidak akan meraih apapun di dalam hidup ini (Muhammad Ali) Perlu seumur hidup untuk menunggu orang lain mempercayai anda, lebih baik mulailah dengan mempercayai diri sendiri lebih dahulu (Chef) Perubahan adalah sesuatu yang wajar tidak tersanjung bila sukses, dan tidak patah semangat bila gagal (Dirk Mathisan) Berikanlah sebanyak mungkin waktu untuk memperbaiki diri sehingga anda tidak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain (Thomas Jefferson) Melakukan hal biasa dengan cara luar biasa akan membawa anda ke masa depan yang luar biasa
Tulis buku tamu
Home > opini
Jumat 7 Agustus 2020

Angka kejadian kanker saat ini sangat tinggi. Golongan umur yang paling banyak terkena kanker adalah umur di atas 40 tahun. Terdapat 100 penderita kanker per 100.000 penduduk. Kanker serviks terhitung paling tinggi, menyusul kanker payudara, kanker kulit, kanker nasofaring, kelenjar limfe, dan kanker ovarium. Bertambah dini gejala penyakit kanker ditemukan, bertambah besar, kemungkinan untuk menyembuhkannya. 61% kanker serviks tidak menunjukkan gejala dini, namin penyakit ini dapat diketahui secara dini melalui pemeriksaan sitologi dan biopsi. Kanker serviks stadium 0 dapat disembuhkan dengan tingkat keberhasilan mendekati 100%, stadium I kesembuhan 80-90%, stadium II 50-60%, stadium III 25-30%, sedangkan stadium IV 5-10%.

Pencetus terjadinya kanker serviks yaitu kawin muda, sering berganti patner, dan kurang menjaga kebersihan. Wanita yang kawin muda dianjurkan untuk melakukan pap smear secara berkala sejak usia tiga puluh. Masa haid yang berkepanjangan merupakan gejala dini kanker serviks, begitu pula keputihan ringan terus menerus atau terjadi perdarahan ringan setelah senggama. Pusat penelitian kanker Barcelona, Spanyol telah meneliti pentingnya khitan. Pria yang berkhitan beresiko mengalami infeksi HPV sebanyak 6%, sedangkan pria yang tidak berkhitan memiliki resiko terinfeksi HPV sebesar 20%. Pria berkhitan menurunkan resiko pasangannya mengalami infeki HPV sebesar 63% dan mengurangi resiko kanker serviks lebih dari 50%.

Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker serviks adalah :

  1. Rutin melakukan pemeriksaan Pap smear
  2. Melakukan tes DNA HPV untuk mencari tahu keberadaan virus HPV di dalam DNA leher rahim
  3. Melakukan vaksinasi HPV paling ideal diberikan pada mereka yang memang belum aktif secara seksual. Namun, semua orang dewasa yang aktif secara seksial dan belum pernah mendapatkan vaksin pencegahan kanker serviks disaraknakn untuk segera melakukan vaksinasi.
  4. Hindari merokok
  5. Menjaga kebersihan vagina, khususnya saat sedang menstruasi dan keputihan untuk mencegah terjadinya serviks.
Jumat 7 Agustus 2020

Saat ini dunia, termasuk negara kita Indonesia sedang dilanda pandemi yaitu Coronavirus Disease-2019 (COVID-19). Virus ini sangat pintar. Virus ini mungkin tidak membuat seseorang sakit karena memiliki daya tahan tubuh yang baik, namun ia bisa bersembunyi di tubuh seseorang. Kemudian virus pun akan ditransfer kembali kepada orang-orang dengan daya tahan tubuh lemah sehingga dapat mengakibatkan kematian.

Meskipun demikian jangan patah semangat karena penyakit ini juga dapat disembuhkan. Yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan, bila seseorang memiliki antibodi yang kuat, maka virus corona tidak bisa melumpuhkan tubuh. Temulawak atau Curcuma Xanthorrhiza Roxb mengandung curcumin dan mempunyai manfaat yaitu memperlancar proses pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, antibakteri dan antijamur, mengatasi peradangan, membantu proses metabolisme tubuh, menambah nafsu makan, menurunkan kolesterol, mengatasi masuk angin, baik untuk kesehatan hati, membantu mengeluarkan toksin tubuh, serta mencegah penuaan dini.

Terkait dengan infeksi virus COVID-19, menurut Prof. Dr. Chairul A. Nidom, Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), menjelaskan curcumin dalam temulawak mampu mengendalikan produksi sitokin akibat dari satu sel yang terinfeksi oleh virus, baik itu virus influenza maupun Covid-19. Sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh, bila terpapar virus terus menerus bisa terjadi badai sitokin yang membuat paru-paru padat dan kaku sehingga terjadi sesak nafas bahkan gagal nafas dan bisa berlanjut ke kematian. Prof. Nidom mengungkapkan, dalam penelitian yang ia lakukan pada 2008, curcumin pada temulawak mampu mengendalikan sitokin inflamatori sehingga tidak terjadi badai sitokin. Hasil penelitian Prof. Nidom ini sejalan dan memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) yang mengandung curcumin memiliki efek terhadap daya tahan tubuh yaitu sebagai imunomodulator (Cattanzaro et al, 2018). Penelitian lain yaitu Varalaksmi, et al. (2008), juga menyatakan bahwa curcumin dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan kemampuan proliferasi sel T.

Dari ulasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mengkonsumsi temulawak dapat digunakan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi Covid-19.

Find us on :
AKADEMI KEPERAWATAN PANTI KOSALA SURAKARTA
Jalan Raya Solo – Baki Km. 4 Gedangan, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo,
Jawa Tengah, Indonesia
Telp. (0271) 621313 Faks. (0271) 621672
Email. akperpk@yahoo.com
LOGIN E-JURNAL DIKTI